hidup di desa yang jauh dari keramaian, selalu sepi. tak ada yang istimewa disini selain pemandangan kawah gunung yang "katanya" indah. kadang sesuatu yang indah jadi biasa saja saat kamu terlalu sering menikmatinya.
pergi ke sekolah di pagi buta, pulang ke rumah saat gelap gulita. tak ada yang istimewa, orangtuaku bilang bahwa "sekolah lah agar kamu sukses kelak" tak ada jalan sedikitpun yang ku temukan untuk mengarah pada kalimat mereka. aku bersekolah karna menemukan sesuatu yang menarik disana. iyaa bernama Via.
bayangkan bagaimana bahagianya kala kamu datang ke sekolah dengan sejumlah penat yang memenuhi pikiranmu kemudian seseorang tersenyum tulus di depan matamu dan berkata "selamat pagi" tuhaaaaan! bahagianya hati.
bagaimana mentari bersinar selalu terulang setiap pagi menghampiri dengan masalah baru, dengan beberapa kisah konyol yang akan menghancurkanmu beberapa menit saja. seperti yang aku alami contohnya, aku menemukan kebahagiaanku dengan terus melihat bintang setiap malam dengan sebuah pensil dan secarik kertas. kemudian aku tuliskan beberapa huruf yang membentuk puisi disana. tapi mereka bilang ini aneh. padahal pikir! setiap manusia punya jalan pikiran yang berbeda, karna itu mereka juga punya cara membahagiakan diri yang berbeda. tak ada yang menarik untuk disebut "aneh"
hari ini sama seperti hari-hari kemarin. saya menemukan kebahagiaan di matanya, tepat disana, ada pelangi yang membuat mata tak berkedip, membuat hati tenang seakan surga ada di depan matamu.
'selamat pagi' sapanya penuh senyuman. seperti sebelumnya.
'hallo selamat pagi kamu sudah makan? makan apa? sehat kan?' jawabku penuh ekspresi kebahagiaan. andai dia tau dialah alasan kenapa aku tetap berlari walau kakiku tersandung ratusan kali. andai dia tau dialah alasan aku tersenyum sejak pertama kali dia ucapkan selamat pagi.
'iyaaa sehat seperti biasanya. sepertinya kamu yang sedang tidak sehat?'
'sebelum berangkat tadi memang kurang enak badan sih, tapi setelah dengar suara kamu sakit saya ditutupi bahagia.' jawabku penuh kejujuran. sayangnya dia menganggap ini hanya gombalan pinggir jalan.
'ah kamu bisa aja gombalnya' jawabnya penuh kepolosan. kemudian...
'sudah bel, aku masuk dulu yaaaa' aw pukulan telak di hati, dia mengabaikan perasaanku lagi.